Rabu, 13 Juli 2016

Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka!

Bagaimana jalannya hidup setelah lama tak bertemu? Kuharap semuanya berlangsung indah seperti yang aku harapkan terjadi padamu. Semenjak mata kita terakhir bertemu secara tak sengaja, saat itu petir menyambarku lagi dibarengi Eros yang siap membidik punggungku. Aku kurang paham mengapa Eros selalu datang saat mataku menemukan sepasang cahaya di wajahmu. Ini yang membuatku jatuh berkali-kali dan merasa bahagia tak kurang dari banyaknya itu. Lalu bagaimana dengan duniamu? Apakah mataku juga mengundang Eros datang mendekatimu? Tentu saja tidak. Aku cuma bergurau, kawan. 

Hei, sadarkah? Sudah sewindu sejak Tuhan mengirimmu untuk berdiri di ambang pintu dan tersenyum pada seisi kelas

Kejadian itu sewindu yang lalu. Saat pertama kali kau datang ke kelasku, juga hidupku. Sejak saat itu, duniaku menjadi lebih dari yang pernah aku harapkan. Sekedar tahu namamu adalah sebuah pencapaian tingkat tinggi seorang anak berseragam putih-merah yang setahun berikutnya sudah harus berganti seragam menjadi putih-biru. Hari-hari indah terus berlanjut, bahkan ketika cobaan berat menerpaku, kamu masih menjadi alasan kuat untukku tetap bernapas esok harinya. 
Awalnya aku mengira nasibku akan sama seperti teman seusiaku. Sekedar bilang “Aku suka dia…”, mencoba mendekatinya, tak mendapat tanggapan, lalu tamat pula ceritanya. Aku berbeda. Mereka bilang aku terlalu dewasa untuk hal ini. Padahal, saat itu, aku sama sekali belum pernah membaca novel dewasa yang membahas ragam derivat cinta yang direaksikan dengan alur cerita yang indah –aku tahu baru-baru ini. Aku tak peduli pada mereka. Alasannya sederhana, bisa memandangi figur indah yang mampu memacu jantungku hingga terasa mau pecah adalah sebuah anugerah. 

Setelah aku tahu bahwa perasaan ini berhak berbalas, saat itulah anugerah berubah menjadi musibah

Lambat laun, aku mengerti bahwa kebahagiaan ini akan berlipat ganda saat orang yang aku anggap anugerah juga menganggap diriku tak kurang indah dari sebuah pemberian Tuhan. Aku mulai mencari tahu dan menemukan orang lainlah yang kamu anggap anugerah. Jadi, ceritanya sudah tamat? Untuk orang lain mungkin jawabannya Iya, tetapi dengan bodohnya aku masih memercayaimu sebagai hal terbaik. Namun ada yang mengganggu hatiku saat menikmati senyummu dari jauh. Seperti ada perasaan berdosa dan kebebasan yang kini mulai terbatas. Kamu sibuk dengannya, merangkai sebuah cerita yang membuat setiap remaja ingin seperti kalian dan aku sadari aku ingin menggantikan dirinya dan menikmati cokelat Valentine ini bersamamu. Nyatanya, aku hanya bisa diam di sudut kelas dengan sebatang cokelat dan sepucuk surat dengan namamu di sampulnya.

Hari itu bukanlah yang terburuk, karena lembar hidup selanjutnya mengajarkanku betapa imajinasi saja tak cukup membuatku bahagia 

Aku masih disini menunggumu dengan sangat bodoh. Berharap kamu akan menyempatkan waktu untuk menengok ke arah dimana aku selalu mengumpulkankan air mata, karena aku belum pindah dari tempat itu dengan alasan yang sama. 
Semakin hari, keadaan semakin menyudutkanku. Perasaan ini tak seutuh sedia kala, hancur, bahkan beberapa sudah diterbangkan angin kecuali bagian intinya yang masih membentuk namamu. Deretan kata memenuhi kolom-kolom sosial media ku, menyemogakan kamu membacanya. Aku menumpahkannya secara dramatis dan terkesan hilang arah. Orang-orang prihatin padaku dan bertanya berbagai hal hingga mengerucut pada sebuah pertanyaan pamungkas, “Siapa sih dia?” 

Lewat dirimu, aku tumbuh menjadi pribadi yang tak biasa

Jatuh hati pada makhluk sepertimu memberi banyak warna dalam hidupku. Hal yang awalnya bahagia bisa berubah seketika menjadi air mata. Dari yang awalnya aku selalu merahasiakan identitasmu hingga aku mulai tak teratur dan menceritakan kegalauan ini pada setiap orang yang peduli denganku. Aku juga menjadi bodoh, seperti katamu, karena pamer pada dunia bahwa aku menyukaimu. Aku sedih, lalu bisa tertawa terbahak-bahak, lalu sedih lagi. Aku juga pernah berjuang, tapi gagal di medan perang. Saat aku terlarut dalam pilu, kamu tak menaruh simpati padaku sebab menurutmu aku lemah dan bodoh. Aku kehilanganmu lebih banyak dari sebelumnya. Esoknya pun sama, semuanya berubah menjadi buruk. Kamu membenciku, memutus kontak denganku, bahkan tak pernah lagi memasang senyum untukku. 

Terima kasih telah membuatku bahagia karena jatuh cinta.

Apa yang bisa dilakukan selama delapan tahun? Setidaknya kita bisa memanen padi lebih dari 20 kali, menengok 90-an purnama, dan bertemu delapan kali bulan Agustus.  Ada banyak hal yang bisa diselesaikan dalam rentang waktu tersebut. Aku pun sama. Aku mendapat banyak ilmu hidup selama menunggumu. Membentuk kepribadian dan belajar mengikhlaskan. 
Aku salah sebab besarnya obsesiku untuk memilikimu dan sekarang aku sadar bahwa menyayangimupun sudah luar biasa indahnya, tanpa harus mendapat perlakuan lebih darimu. Aku turut berbahagia melihat lengkung di pipimu saat kamu bersamanya, meskipun rasa inginku ini tetap ada, manusiawi saja, tapi aku akan terus mencoba meminimalisasinya.
Hanya, sungguh aku tak pernah setuju dengan ide untuk melupakanmu. Kamu tahu mengapa? Karena aku tak pernah bisa melakukannya. Percayalah, kamu selalu ada dalam setiap doaku, mimpiku, dan beberapa ruang di hatiku. Denganmu, aku pernah merasa indahnya jatuh cinta. Semoga kita bahagia di jalan masing-masing. Kamu, sebuah anugerah, seorang yang kutunggu hampir sewindu, terima kasih. 

Minggu, 24 April 2016

Breakeven (Simpul Pertama)


          Ya, tentu saja hati yang telah patah dan hancur berkeping-keping tak akan pernah baik-baik saja. Kekacauan ini akan membuat hidup jadi tak seimbang, pikiran juga sulit fokus. Danny tentu dapat berhenti memutar lagu itu di ponselnya, namun “Breakeven”-nya The Script seakan sudah merasuk, menusuk setiap urat-urat nadi yang hulunya di daun telinga. Lagu itu semakin lama, terasa semakin cocok dengan hidupnya kini.
          Seakan tak ada kebosanan dalam diri Danny untuk menghayati setiap lirik dalam lagu itu. Bagaimana bisa mereka menciptakan lagu yang sungguh menyentuh sukmanya? Seperti hanya musik inilah yang mampu mengerti dia. Skripsi yang tak kunjung tuntas meyakinkannya untuk tetap mau menarik napas puluhan kali setiap menit setelah perempuan itu menghilang.
          Ia perempuan terdidik, bahkan sebentar lagi akan menjadi sarjana muda. Tak sampai disitu, kiprahnya dalam organisasi kampus membuat kesan dewasa dan terpelajar nampak di setiap guratan-guratan halus di pipinya yang terbentuk setiap kali ia tersenyum.
          Senyum itulah yang memabukkan Danny. Setahun yang lalu saat mereka bertemu dalam sebuah acara kampus. Le coup de foudre. Begitu orang Prancis bilang. Dari mata, hidung, telinga, dan senyuman perempuan berambut pendek sebahu itu, muncul petir-petir yang bermuara di hati Danny. Beberapa minggu kemudian, petir-petir itu dikirim balik pada Gani. Mereka mulai sadar ada “gelombang elektromagnetik satu fase” yang muncul dari ujung-ujung jari mereka, dialirkan lewat belaian rambut, pegangan tangan, serta kecupan di kening. Janji-janji manis meluncur dari mulut dua anak manusia ini.
          Seperti pasangan muda-mudi yang tahu sopan santun. Mereka tak pernah macam-macam dalam hubungan. Saling menghargai satu sama lain dan tak ingin mengotori hubungan itu. Bukankah itu komitmen yang sungguh manis? Semanis lemon tea ice yang sedang diaduk-aduk sekenanya oleh Dan. Dan, begitu panggilan sayang Gani pada Danny. Tapi tetap saja, analogi lemon tea ice yang katanya manis tidak selalu tepat dalam menggambarkan hubungan dua anak manusia. Hari ini, kemarin juga, lemon tea milik Danny mulai terasa sangat asam. Ternyata perasan jeruk limun nya terlalu banyak, sebanyak masalah yang mulai menghambat aliran cinta dalam nadi-nadi mereka.
          Lalu apa yang selanjutnya terjadi? 
Cerita ini terinspirasi dari Lagu yang berjudul Breakeven milik The Script. Nama, alur, penokohan, dan semua unsur dalam cerita ini hanya fiktif belaka. Maaf jika banyak kekurangan. Mohon untuk memperhatikan etika menyalin tulisan bila ingin menyalin tulisan ini- setidaknya tulis di kolom komentar. Saran anda akan sangat membantu dalam "Breakeven Simpul Kedua". INSPIRED BY LYRICS OF "BREAKEVEN-THE SCRIPT"