Minggu, 24 April 2016

Breakeven (Simpul Pertama)


          Ya, tentu saja hati yang telah patah dan hancur berkeping-keping tak akan pernah baik-baik saja. Kekacauan ini akan membuat hidup jadi tak seimbang, pikiran juga sulit fokus. Danny tentu dapat berhenti memutar lagu itu di ponselnya, namun “Breakeven”-nya The Script seakan sudah merasuk, menusuk setiap urat-urat nadi yang hulunya di daun telinga. Lagu itu semakin lama, terasa semakin cocok dengan hidupnya kini.
          Seakan tak ada kebosanan dalam diri Danny untuk menghayati setiap lirik dalam lagu itu. Bagaimana bisa mereka menciptakan lagu yang sungguh menyentuh sukmanya? Seperti hanya musik inilah yang mampu mengerti dia. Skripsi yang tak kunjung tuntas meyakinkannya untuk tetap mau menarik napas puluhan kali setiap menit setelah perempuan itu menghilang.
          Ia perempuan terdidik, bahkan sebentar lagi akan menjadi sarjana muda. Tak sampai disitu, kiprahnya dalam organisasi kampus membuat kesan dewasa dan terpelajar nampak di setiap guratan-guratan halus di pipinya yang terbentuk setiap kali ia tersenyum.
          Senyum itulah yang memabukkan Danny. Setahun yang lalu saat mereka bertemu dalam sebuah acara kampus. Le coup de foudre. Begitu orang Prancis bilang. Dari mata, hidung, telinga, dan senyuman perempuan berambut pendek sebahu itu, muncul petir-petir yang bermuara di hati Danny. Beberapa minggu kemudian, petir-petir itu dikirim balik pada Gani. Mereka mulai sadar ada “gelombang elektromagnetik satu fase” yang muncul dari ujung-ujung jari mereka, dialirkan lewat belaian rambut, pegangan tangan, serta kecupan di kening. Janji-janji manis meluncur dari mulut dua anak manusia ini.
          Seperti pasangan muda-mudi yang tahu sopan santun. Mereka tak pernah macam-macam dalam hubungan. Saling menghargai satu sama lain dan tak ingin mengotori hubungan itu. Bukankah itu komitmen yang sungguh manis? Semanis lemon tea ice yang sedang diaduk-aduk sekenanya oleh Dan. Dan, begitu panggilan sayang Gani pada Danny. Tapi tetap saja, analogi lemon tea ice yang katanya manis tidak selalu tepat dalam menggambarkan hubungan dua anak manusia. Hari ini, kemarin juga, lemon tea milik Danny mulai terasa sangat asam. Ternyata perasan jeruk limun nya terlalu banyak, sebanyak masalah yang mulai menghambat aliran cinta dalam nadi-nadi mereka.
          Lalu apa yang selanjutnya terjadi? 
Cerita ini terinspirasi dari Lagu yang berjudul Breakeven milik The Script. Nama, alur, penokohan, dan semua unsur dalam cerita ini hanya fiktif belaka. Maaf jika banyak kekurangan. Mohon untuk memperhatikan etika menyalin tulisan bila ingin menyalin tulisan ini- setidaknya tulis di kolom komentar. Saran anda akan sangat membantu dalam "Breakeven Simpul Kedua". INSPIRED BY LYRICS OF "BREAKEVEN-THE SCRIPT"