Ya, tentu saja hati yang telah patah
dan hancur berkeping-keping tak akan pernah baik-baik saja. Kekacauan ini akan
membuat hidup jadi tak seimbang, pikiran juga sulit fokus. Danny tentu dapat
berhenti memutar lagu itu di ponselnya, namun “Breakeven”-nya The Script seakan
sudah merasuk, menusuk setiap urat-urat nadi yang hulunya di daun telinga. Lagu
itu semakin lama, terasa semakin cocok dengan hidupnya kini.
Seakan tak ada kebosanan dalam diri
Danny untuk menghayati setiap lirik dalam lagu itu. Bagaimana bisa mereka
menciptakan lagu yang sungguh menyentuh sukmanya? Seperti hanya musik inilah
yang mampu mengerti dia. Skripsi yang tak kunjung tuntas meyakinkannya untuk
tetap mau menarik napas puluhan kali setiap menit setelah perempuan itu
menghilang.
Ia perempuan terdidik, bahkan sebentar
lagi akan menjadi sarjana muda. Tak sampai disitu, kiprahnya dalam organisasi
kampus membuat kesan dewasa dan terpelajar nampak di setiap guratan-guratan
halus di pipinya yang terbentuk setiap kali ia tersenyum.
Senyum itulah yang memabukkan Danny. Setahun
yang lalu saat mereka bertemu dalam sebuah acara kampus. Le coup de foudre. Begitu orang Prancis bilang. Dari mata, hidung,
telinga, dan senyuman perempuan berambut pendek sebahu itu, muncul petir-petir
yang bermuara di hati Danny. Beberapa minggu kemudian, petir-petir itu dikirim
balik pada Gani. Mereka mulai sadar ada “gelombang elektromagnetik satu fase”
yang muncul dari ujung-ujung jari mereka, dialirkan lewat belaian rambut,
pegangan tangan, serta kecupan di kening. Janji-janji manis meluncur dari mulut
dua anak manusia ini.
Seperti pasangan muda-mudi yang tahu
sopan santun. Mereka tak pernah macam-macam dalam hubungan. Saling menghargai
satu sama lain dan tak ingin mengotori hubungan itu. Bukankah itu komitmen yang
sungguh manis? Semanis lemon tea ice yang sedang diaduk-aduk sekenanya oleh
Dan. Dan, begitu panggilan sayang Gani pada Danny. Tapi tetap saja, analogi
lemon tea ice yang katanya manis tidak selalu tepat dalam menggambarkan
hubungan dua anak manusia. Hari ini, kemarin juga, lemon tea milik Danny mulai
terasa sangat asam. Ternyata perasan jeruk limun nya terlalu banyak, sebanyak
masalah yang mulai menghambat aliran cinta dalam nadi-nadi mereka.
Lalu apa yang selanjutnya terjadi?
Cerita ini terinspirasi dari Lagu yang berjudul Breakeven milik The Script. Nama, alur, penokohan, dan semua unsur dalam cerita ini hanya fiktif belaka. Maaf jika banyak kekurangan. Mohon untuk memperhatikan etika menyalin tulisan bila ingin menyalin tulisan ini- setidaknya tulis di kolom komentar. Saran anda akan sangat membantu dalam "Breakeven Simpul Kedua". INSPIRED BY LYRICS OF "BREAKEVEN-THE SCRIPT"
Suka banget :) cuman endingnya kurang greget. Jadi menghilangkan 'sedikit' rasa penasaran untuk ke simpul yang kedua. But tetep nungguin Gani dan Danny selanjutnyaa
BalasHapusMaaf masih newbie :v ini belum ending kok heheheh mkasih sarannya ya, Niar. Sangat membantu :)
HapusSuka banget :) cuman endingnya kurang greget. Jadi menghilangkan 'sedikit' rasa penasaran untuk ke simpul yang kedua. But tetep nungguin Gani dan Danny selanjutnyaa
BalasHapusGood gus, setuju sm niar, endingnya kurang greget, saran aku sebagai pembaca, karena ak ga bsa buat yg lebih bagus dr ini, cm bisa ngasi saran yg membangun buat km, pujanga galau :v
BalasHapusTerimakasih, Dwik :) sangat membantu.Nanti simpul keduanya akan lebih galau heeheheh
Hapusthor author semangat yaa, penasaran banget niihh!!!
BalasHapusTerima kasih, Anggita :) sabar ya authornya lagi mikir hahhahahah.
Hapus